Hari Raya Idul Adha 1447 H/2026 M

Makna dan Sejarah Idul Adha
Idul Adha mengajarkan kita nilai-nilai pengorbanan, keikhlasan, kesabaran, ketaatan, dan nilai sosial bermasyarakat. Dalam bulan Dzulhijjah terdapat perintah untuk menyembelih hewan kurban dan melaksanakan ibadah haji bagi yang memiliki kemampuan dari segi keuangan maupun kesehatan.

Perintah Untuk Berkurban
Berkurban di hari Raya Idul Adha merupakan sebuah perintah kepada manusia menuju surga membutuhkan sebuah pengorbanan dan ketaatan kepada-Nya sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an tentang Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. yang mendapatkan mimpi untuk menyembelih Nabi Ismail AS pada tanggal 8 Dzulhijjah. Sebagai seorang ayah tentu saja mimpi tersebut membuat Nabi Ibrahim merenung dan memohon petunjuk kepada Allah SWT. Namun, Nabi Ibrahim A.S tetap mendapatkan mimpi yang sama hingga tiga kali.

Nabi Ibrahim AS kemudian menyampaikan mimpinya kepada anaknya Nabi Ismail AS. merupakan sosok yang taat atas perintah Allah SWT, namun Nabi Ismail AS tanpa ragu meminta sang ayah untuk melaksanakan perintah tersebut. Atas keikhlasan dan kesabaran keduanya, Allah SWT mengganti Nabi Ismail AS dengan seekor domba, sehingga kini dijadikan sebuah ibadah rutin pada hari Tasyrik yang jatuh pada tanggal 10-13 Dzulhijjah setiap tahunnya.

Perintah Untuk Melaksanakan Ibadah Haji
Haji merupakan rukun Islam kelima yang hukumnya diwajibkan bagi orang yang mampu baik dari segi keuangan maupun kesehatan. Oleh sebab itu, kita harus berkorban untuk dapat melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji bermula ketika Nabi Ibrahim AS mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk membangun Ka’bah di Kota Mekkah. Begitu selesai Ka’bah dibangun, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk mengumandangkan adzan dan memberitahu manusia tentang ibadah haji.

Rangkaian peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS dan keluarganya, Allah dijadikan sebagai dasar ibadah haji bagi umat islam di seluruh dunia. Setiap tanggal 8-12 Dzulhijjah jutaan umat islam melakukan serangkaian ibadah haji. Perintah haji juga tercantum dalam Al-Qur’an surat Ali-Imran Ayat 97 yang terjemahannya : “Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam”.